Wikifreaks, Chapter 1(1/6) : Kisah Kasim Di Sekolah

Gue Rocky G. Blake (Red, Roki Geblek), siswa kelas 3 SMA Metal Mandiri. Mungkin nama Sekolahnya terkesan berandal, tapi SMA ini terkenal dengan kedisiplinan dan prestasi yang konsisten setiap tahun. Atlit balap karung Nasional juga dulunya sekolah disini, bersama peraih emas Olimpiade cabang Lempar batu sembunyi tangan.

Sejatinya, gue menderita Epilepsi akut sejak bayi. Belakangan malah diketahui IQ gue berada dikisaran 12 dan terus menurun seiring bertambahnya usia. Tapi kondisi gue drastis membaik sejak gue ikut terapi sambung urat di dukun bersalin. Alih-alih normal, gue malah jadi superjenius.

Mamih mantan Miss Universe dari Venezuela, bekerjasama dengan Papih yang asli Portugis ngewarisin gen yang sempurna buat gue dan Rika. Saking sempurnanya, waktu usia 2 bulan, gue sempet ditawarin kontrak buat main sebagai bayi di Sinetron Putri Yang Tertukar. Tapi waktu dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh pihak produksi, baru diketahui bahwa gue adalah bayi laki-laki setelah benda kecil yang diduga jerawat, ternyata adalah alat kelamin gue dan merupakan satu-satunya indikator gue sebagai lelaki sejati.

Produser jelas lebih milih ngeganti pemeran bayi tersebut ketimbang harus ngeganti judul sinetronnya jadi ‘Putra Yang Ditukar’. Yah, itulah masa lalu. Akibat gagal dapet peran itu, Sekarang gue ngejalani hidup dengan sangat biasa dan.. sedikit Freak.

“Okii ! Udah jam berapa ini??” Teriak mamih dari tangga.

“Iya mih, ini lagi siap-siap kok”

Jirr, lagi-lagi gue telat gara-gara ngobrol ama diri sendiri.

“Mih, itu chocochip kok nyebar didepan ya?”

“Masa sih?”

Mamih itu multitalented. Dia kadang nerima pesanan kue dari ibu-ibu tetangga buat nambah-nambah biaya ekstensi bulu mata. Ngeliat bakatnya, gak salah kalo mamih kepilih jadi Miss Universe.

“Mih! Kok rasanya gak enak?!”

“Ya ampun, itu pup embek kii..”

Yiiakks!

Gue muntahin semuanya. Okeh, sebagian emang ketelen..

“Ini kambing siapa sih?!” Tanya gue kesel.

“Punyanya Mang Ucup. Mamih juga buka tempat penitipan kambing, biar bisa beli maskara yang bisa dimakan itu loh. Keren yah?”

Walau kesel, gue gak bisa marah. Emang gue yang salah sih, ngapain coba mungutin choco chips di lantai.

Enam belas tahun sejak gue dilahirkan, gak sekalipun status facebook gue beralih dari ‘Single’ ke ‘In Relationship’. Bukan apa-apa, gue cuma gak tertarik sama cewek-cewek di sekolahan, dan bukan berarti gue tertariknya sama cowo ya. Mau gimana lagi, scara gue udah kenal baik-buruknya mereka dari ujung kaki sampe ubun-ubun, dari luar-dalem bahkan warna daleman mereka gue hapal luar kepala.

“Pagii, Rocky”

Nah, Nikita misalnya. Cewek yang sejak lahir dikutuk jadi model. Saat ini dielu-elukan sebagai cewek paling cantik di sekolah gue. Tapi, belakangan gue tau kalo dia nutupin tompel di pipinya dengan make up tebel. Saking tebelnya sampe terkadang muncul retakan di wajahnya kalau senyum atau bicara terlalu antusias dengan orang-orang disekitarnya.

Beda sama Mischa, sahabatnya. Yang ini sih cantiknya asli, tanpa make up. Sayangnya, dia itu salah satu korban sinetron yang lagi booming sekarang, akibatnya do’i selalu terobsesi untuk berbuat jahat.

Dan gue? Gue selalu berhasil masuk ke Daftar 5 murid terpopuler tiap bulannya dari Majalah antar sekolah. Itu semua berkat gue selalu konsisten memberikan sensasi baru di lingkungan sekolah.

Popularitas gue bisa nanjak drastis begini sejak mendirikan Perkumpulan ‘Nusa Bangsa’. Mulanya, ini Cuma kelompok pelarian bagi mereka yang gak keterima di gank ’Kalajengking’. Sebuah perkumpulan yang menyatukan aspirasi anak-anak paling labil, alay dan narsis di sekolahan.

Kelompok gue juga sekedar iseng-isengan. Rutinitasnya paling sebatas ngintipin nenek-nenek fitnes di Monas tiap weekend. Tapi, seiring banyaknya orang-orang yang bergabung, kelompok ini malah jadi lebih besar dan tenar dimana-mana.

“Eh itu kan si Rocky, ketua Nusa bangsa itu loh. Tau gak? Katanya dia ngehamilin anak orang loh”

“Lah? Bukannya dia yang kemarin baru keluar penjara gara-gara nyolong pakaian dalam ya?”

“Iya iya, gue juga dengernya begitu”

Itu sekilas bisik-bisik tetangga yang gue denger dari obrolan siswa lain di sekolah pas lagi jalan santai menuju kantin. Kadang, kabar miring kayak gitu nunjukin kalo seseorang mulai naik daun. Makanya, untuk sekarang gue ikhlas lahir batin diomongin yang aneh-aneh begitu.

Kalajengking gak tinggal diam. Mereka berkali-kali coba mengintimidasi anggota gue satu per satu. Kenyataannya, merekai gak berkutik saat anggota gue berani ngelawan. Apalagi gerakan radikal Nusabangsa dimotori sahabat deket gue lainnya, Endrew Anggara. Yang lebih terbiasa dipanggil Endang. Orang paling tempramental sekaligus paling jago Pencak Silat di seluruh kecamatan Meleng ini.

Kharisma gue yang makin keliatan, ditambah popularitas sebagai ketua genk membuat cewek-cewek histeris kalo ada di dekat gue. Semua cewek yang semula macarin anak-anak kalajengking karena dianggap paling keren mulai berubah haluan. Bahkan Endang, Leonarto dan Kasim, tiga temen gue sejak playgroup pun jadi rebutan cewe seantero sekolahan.

Lalu gue?

Gue jadi topik utama di rubrik-rubrik sekolahan, foto-foto gue sejak bayi di upload ke mading dan di tempelkan ke dinding Pesbuk. Foto-foto itu dengan cepat tersebar sampai ke Negeri tetangga dan mendapatkan ‘Double Platinum’ untuk penjualan albumnya.

To be Continue…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s