APLIKASI : BIAYA PERPAJAKAN (Bab 8, ‘Pengantar Ekonomi’, Gregory N. Mankiw, 2003, Ed,2. Jilid 1)

Kerugian beban baku pajak

Jika pajak dibebankan kepada para pembeli, kurva permintaan akan bergeser kebawah sebesar pajak tersebut; sedangkan jika pajak dibebankan kepada para penjual, maka akan menggeser kurva penawaran keatas sebesar pajak itu. Pajak menempatkan sebuah irisan atara harga yang harus dibayar pembeli, dengan harga/yang akan diterima oleh penjual. Akibat adanya irisan pajak ini, kuantitas barang yang terjual akan turun, lebih rendah dari kuantitas seandainya pajak itu tidak ada. Dengan kata lain, pengenaan pajak terhadap suatu jenis barang akan mengakibatkjan pasar barang tersebut menyusut.

 

Bagaimana pajak mempengaruhi perilaku pasar

Keuntungan yang diterima pembeli akan dihitung berdasarka surplus konsumen—jumlah yang bersedia dibayarkan pembeli dikurangi harga yang sesungguhnya. Sedangkan keuntungan yang diterima penjual akan dihitung berdasarkan surplus produsen—harga yang diterima penjual dikurangi dengan biaya produksinya.

Jika T adalah besaran pajak dan Q adalah kuantitas penjualan barang yang dikenai pajak, maka total penerimaan yang diperoleh pemerintah dari pajak adalah T x Q. Dengan penerimaan pajak inilah, pemerintah membiayai berbagai program dan jasa pelayana umum untuk penduduknya, mulai dari menyediakan sarana transportasi umum, polisi, sarana pendidikan, dan bantuan langsung kepada kelompok masyarakat miskin.

Dalam kenyataanya, keuntungan pajak itu tidak untuk dinikmati pemerintah melainkan disalurkan kembali untuk kepentingan masyarakat luas.

Surplus total adalah bidang yang berada diantara kurva penawaran dan kurva permintaan.

 

Kesejahteraan setelah pengenaan pajak

Setelah pemerintah mengenakan pajak, harga yang harus dibayar pembeli meningkat sehingga surplus konsumen pun menyusut. Sedangkan harga yang diterima penjual juga berkurang, sehingga produsennya juga berkurang. Kuantitas penjualan juga ikut turun karenanya.

 

Perubahan kesejahteraan

Pajak mengakibatkan kerugian bagi penjual dan pembeli, dan disisi lain memberikan keuntungan bagi pemerintah.

Perubahan total kesejahteraan mencakup perubahan atas surplus konsumen (yang negatif), perubahan surplus produsen (yang juga negatif), dan perubahan penerimaan pajak (positif).

Dengan demikian, kerugian berupa penurunan surplus produsen dan penurunan surplus konsumen melebihi keuntungan berupa penerimaan pajak yang diterima pemerintah. Penurunan surplus total akibat pengenaan pajak (atau beberapa kebijakan lainnya) yang mendistorsi hasil pasar inilah yang disebut sebagai kerugian beban baku (dead weight loss).

Ekuilibrium penawaran dan permintaan akan memaksimalkan surplus total bagi para penjual dan pembeli di pasar. Namun, jika pajak yang harus dikenakan menaikkan harga yang harus dibayar pembeli dan menurunkan harga yang akan diterima penjual, maka pajak itu akan menciptakan insentif atau semacam dorongan bagi para pembeli untuk mengurangi konsumsinya. Dalam waktu bersamaan pajak itu juga menimbulkan insentif bagi penjual untuk menurunkan produksinya. Begitu para pembeli dan penjual benar-benar bereaksi pada insentif itu, maka total output atau ukuran pasar pun menyusut dibawah ukuran optimumnya. Dengan demikian jelaslah bahwa pengenaan pajak memang dapat mendistorsi insentif, dan mengakibatkan pasar tidak mampu mengalokasikan sumber daya secara efisien.

 

Kerugian beban baku dan keuntungan perdagangan

Kerugian pembeli dan penjual dipasar, kadang tidak diimbangi oleh penerimaan bagi pemerintah. Pajak mengakibatkan kerugian beban baku karena menghalangi penjual dan pembeli meraih untung perdagangan.

Keuntungan potensial yang terkandung dalam perdagangan—selisih antara nilai barang bagi pembeli dan biaya produksinya bagi penjual—lebih kecil daripada besarnya pajak. Jadi perdagangan itu tidak langsung terjadi ketika pajak diterapkan. Disini kita melihat bentuk lain dari kerugian beban naku, yakni hilangnya surplus karena penerapan pajak mendorong pembeli dan penjual menunda perdagangan yang sebenarnya menguntungkan kedua belah pihak.

 

Determinan-determinan kerugian beban baku

Yang menentukan besar kecilnya kerugian beban baku yang ditimbulkan pajak adalah elastisitas penawaran dan permintaan terhadap harga, yang masing-masing mengukur perubahan kuantitas yang ditawarakan dan kuantitas yang diminta pada saat harga berubah.

Kerugian beban baku terkait elastisitas penawarannya terhadap harga:

  • v  Jika penawarannya relatif inelastis, maka kerugian beban baku yang ditimbulkan pajak kecil.
  • v  Jika penawarannya relatif elastis, maka kerugian beban baku yang ditimbulkan pajak besar.
  • v  Jika permintaannya relatif inelastis, maka kerugian beban baku yang ditimbulkan pajak kecil.
  • v  Jika permintaanya relatif elastis, maka kerugian beban baku yang ditimbulkan pajak besar.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, semakin besar elastisitas penawaran dan permintaannya, akan semakin besar kerugian beban baku pajaknya.

 

KERUGIAN BEBAN BAKU DAN PENERIMAAN PAJAK PADA BERBAGAI TINGKAT/TARIF PAJAK

Para pembuat kebijakan ditingkat lokal, provinsi, negara bagian, hingga tingkat federal maupun nasional seringkali tergoda untuk menaikkan atau menurunkan tarif pajak demi memacu perekonomian sekaligus memperbesar pendapatan pemerintah.

Ketika tarif pajak rendah kerugian beban baku masih kecil ukurannya. Namun ketika tarif dinaikkan kerugian beban baku pun semakin membesar.

Sebenarnya, kerugian beban baku lebih tinggi daripada kenaikkan tarif pajak itu sendiri. Jika tarif pajaknya berlipat dua, misalnya, maka kerugian beban bakunya akan bertambah empat kali lipat. Kalau misalnya,  tarif pajaknya naik tiga kali lipat maka kerugian beban bakunya akan melonjak sembilan kali lipat.

Penerimaan pajak (tax revenue) yang diterima pemerintah adalah hasil perkalian antara tarif pajak dengan jumlah penjualan.

Seiring dengan kenaikan tarif pajak, kerugian beban baku yang ditimbulkan pun semakin meningkat . penigkatan tarif pajak memang dapat memperbesar pendapatan pajak pemerintah,  namun, setelah melewati titik tertentu justru akan mengurangi penerimaan pajak bagi pemerintah.

 

Nb:

Tulisan ini adalah ikhtisar dari Bab 8, ‘Pengantar Ekonomi’,  edisi kedua, jilid satu, tahun 2003.

Sebuah karya dari Gregory N. Mankiw, seorang Profesor ekonomi di Harvard University.

Diterbitkan oleh penerbit Erlangga, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s