Antara Aku, Galau dan Dirinya.

Tulisan ini gue buat untuk memenuhi hasrat pembaca blog yang tanpa henti meronta-ronta kegalauan dipojok kamar atau dibawah jendela, atau dipojok kamar dibawah jendela.

Gue pernah galau. Dilain kesempatan gue juga pernah jadi ababil, alayers, rasis, najis bahkan basis disalah satu grup tari tanpa nama. It’s okay meureunn.. Eropa juga pernah punya dark ages. Nah, kalau bicara masalah bangsa ini sebenarnya ada banyak. Tapi yang mau gue bahas adalah satu yang terpinggirkan dan jarang didengungkan di media-media. Ya, itu Galau.

Memang belakangan muncul semacam talkshow penggalauan rakyat disalah satu stasiun TV. Mungkin  ada komunitas galau yang ingin eksistensi mereka diakui secara nasional dan berunjuk rasa di tempat-tempat tersembunyi yang meresahkan pemerintah. Apapun itu, gue mewakili temen gue yang punya title ‘Mog’ (Master of Galaus), juga rekan seperjuangan lainnya mengapresiasi kehadiran program semacam itu. #Prayforus

Gue alergi kalo denger kata satu ini. Biasanya kalo ada yang bahas kata ini, gue akan selalu menghindar atau setidaknya buang muka ke tong sampah. Galau itu kadang tidak terlihat secara kasat mata, tapi tersirat dari tingkahnya. Dari yang gue cermati dari para reponden gue selama ini, orang galau biasanya ditandai dengan tatapan kosong, mulut tertutup (Kalo kebuka, itu gejala ayan), semua lagu jadi masuk akal (terutama lagu cinta), dan pada kebanyakan kasus dia tidak benar-benar melihat.

Galau, secara perlahan menyeruak diantara masalah bangsa semacam inflasi, pengangguran dan kemiskinan. Bangsa yang kritis pasti akan mempertimbangkanfaktor se-nyeleneh-apapun untuk mencari kemungkinan kemungkinan baru demi kemajuannya.

Galau itu sama kayak kecoa. Ada positif maupun negatifnya (walau gue belum tau sisi positif dari kecoa). Yang positif dari galau bisa lo liat dari karya-karya puisi remaja kebanyakan, cerpen dsb. Yang negatif paling jelas. Selain ngebuat malas makan (Faktor financial tidak diperhitungkan dulu ya), galau juga buat lo malas ngapa-ngapain. Paling parahnya, galau bisa berujung pada stress, terus lo jadi brutal, bawa clurit kemana-mana, lari telanjang dibundaran HI terus mati gerah ditontonin pengendara yang kejebak macet.

Love à Cinta (Kolom Peng-galau-an Rakyat)

Gue gak mau ngasih alasan kenapa gue ngerubah salah satu menu di blog ini dari ‘Love’ jadi ‘Cinta’.  Gue rasa lo juga gak mau tau, persetan dengan kata itu. Tapi kalo lo maksa, yaudah.. gue ngerubah kategori menu tersebut karena..

JENG JENG!!!

Ya! Tepat sekali. Kalo gitu gue gak perlu panjag lebar nyebutin itu disini.

Begitu denger kata ‘g.a.l.a.u’, pikiran kotor kita pasti gak jauh-jauh dari kata aneh lainnya, c.i.n.t.a.

Gue nemu beberapa kalimat bijak dari tokoh-tokoh kartun Hollywood sampe harajuku. Semuaya menjurus ke persahabatan. Tapi jangan salah, persahabatan itu salah satu jembatan ampuh untuk maju ke tahap selanjutnya. Here you go!

“Knowledge cannot replace friendship. I’d rather be an idiot than lose you”Patrick kepada Spongebob

“If there ever comes a day when we can’t be together, keep me in you heart, I’ll stay there forever.” Winnie The Pooh

“Pika pika.” Pikachu

Bijaksana sekali..

 

Kalo lo sukses pada tahap ini biasanya Cuma ada dua hal yang sering terjadi. Status lo bisa berubah jadi ‘pacaran’ atau ‘friendzone’. Artinya persahabtan yang terlalu bersahabat dan disahabat-shabati bisa melenceng dari tujuan lo. Maka dari itu, gue sarankan untuk tuluskan niat hanya sebagai teman, syukur-syukur ketiban langit lo malah bisa berujung ‘married’ dengan do’i.

Kenapa lo bisa ada di ‘friendzone’ dan bukannya ada di depan laptop atau di rest area? Itu juga yang gue pertanyakan.

Sampe akhrinya gue nemu gambar ini di 9gag.

 

 

Yak! Orang ketiga. Walaupun lo belum bisa dianggep sebagai orang kedua, tapi umumnya kecengan/gebetan lo udah punya gebetannya sendiri. Itulah kenapa lo bisa ada di friendzone, bukannya di timezone.

Selain itu ada kasus lain yang cukup menarik. Taylor Swift mungkin ngalamin ini sampe akhirnya dia tuangkan menjadi lagu The story of us –nya. Dikasus yang satu ini, ‘Him’ atau gebetan si do’i tidak lain adalah lo sendiri. Yak, kalian memang saling taksir. tapi gak ada yang inisiatif ngelakukin ‘First Move’. Jadi yang terjadi Cuma saling cupang (curi-pandang), curi foto di facebook dan yang ujung-ujungnya mereka akan saling nge-stalk/ menguntit. #ThankstoMarkZurckenberg.

Galau, gak melulu soal cinta.. keluarga, masalah dan semacamnya juga jadi akar kegalauan. Kadang ngeliat tumpukan tugas, tumpukan piring kotor atau yang paling sering buat galau para anak kos biasanya kalo lagi dengerin lagu Bunda-Melly Goeslaw.

Entah kenapa gue nulis semua ini. Gue juga gak tau. Semua yang gue tulis disini bukan pengalaman pribadi. Cuma pengamatan dengan mata telanjang. Gue sangat termotivasi untuk nulis tulisan ini karena pengunjung blog semakin baik berkunjung kesini sampe target gue bisa terpenuhi.

Terakhir, pesan gue. Galaulah dengan moralmu nak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s