Lokomotif Hitam: A tribute to malaikat hujan

Pagi

Memulai pagi baru tidak akan sesulit ini jika ia tidak terlalu sibuk membuka-buka buku tahunan sampai larut tadi malam. Alhasil ia lupa kalau Loki, VW Beetle keluaran 1953 yang dititahkan oleh kakeknya harus dimanipulasi dulu agar bisa melompat lagi dijalanan. Krisis waktu, Vino memilih menggantungkan harapan pada Damri, dari pada mood mobil kodoknya itu.

Hari ini, tepat dua tahun yang lalu adalah pertama kali Vino melihat Dannies. Dihari itu pula matanya mulai tertutup untuk pemilik keindahan lain di dunia. Sayangnya, mereka tidak pernah benar-benar bertemu lagi sejak berpisah di stadion waktu itu, kesibukan Vino menghadapi seleksi perguruan tinggi menghalangi niatnya untuk mencari Dannies. Lagipula, tidak ada cukup adrenalin dalam dirinya untuk sekedar bertemu dan berbicara. Sekarang, setelah dua tahun tanpa kabar, rasionalnya mulai menerima kalau Dannies mungkin bukan bagian dari skenario tuhan untuknya.

Weekend kedua dibulan Nopember, Vino berangkat lebih pagi. Ditahun keduanya ini, ia mulai berani mencari kesibukan diluar perkuliahan,  dimulai dengan menjadi panitia ospek untuk menyambut junior-junior baru dikampusnya. Vino yang satu ini harus bertindak sebagai senior yang tegas dan terkesan galak didepan calon-calon suksesornya itu.

Berminggu-minggu dihabiskannya berlatih memasang tampang sangar yang pantas disegani, sekantung permen disiapkannya jikalau suaranya keburu habis dikeluarkan. Lalu tibalah saatnya ia menghampiri junior-junior barunya yang terdiam kaku dengan karton didada bertuliskan nama mereka.

Suaranya masih lantang terdera di lapangan berisikan lebih dari seratus orang mahasiswa, sebelum menangkap sosok yang jelas dalam ingatannya, diantara makhluk makhluk yang sama lusuhnya dibawah matahari pagi. Mempertegas ingatannya, ia masuk kecelah-celah barisan itu, dilihatnya lebih dekat karton didadanya. Ya, Dannies Kara Kelsey. Pupil mata Vino seketika membesar, adrenalin memacu darah di Vena nya. Tapi Dannies yang tertunduk itu cuma bisa ketakutan melihat kaki Vino didepannya.

Kenapa dia baru muncul sebagai mahasiswa baru? Kemana dia menghilang? Kenapa ada pita Medis ganda di lengannya? Begitu banyak yang ingin ditanyakan didepannya saat itu, tapi satu huruf pun bisa keluar dari mulut Vino. Lagipula, wibawanya akan jatuh kedasar bumi kalau sampai ia berbicara atau sekedar menyapa Dannies dengan wajah aslinya.

Sepanjang hari itu, ia menguntit kegiatan yang dilakukan Dannies dan mahasiswa baru lainnya, walaupun bukan bagian dari tugasnya. Takdir pasti sudah berbicara, pikirnya. Setelah ospek yang hanya dua hari ini, akan ada banyak waktu tersisa untuk pertanyaan-pertanyaan hati nya.

Tugas sabtu itu selesai sudah, satu hari lagi tersisa untuk masa kerjanya yang sangat singkat. Tapi, sayangnya, ia belum bisa bertemu Dannies sehabis acara itu karena masih ada yang perlu dilakukannya sebagai panitia. Lebih Seratus dua puluh menit berlalu, Vino merasa dua jam itu sangat lama, pupus harapannya bertemu lagi untuk hari itu.

 

Pikirannya berada didimensi lain ketika ia berjalan menuju Halte, sebelum tersadar bahwa Damri yang ini adalah yang terakhir. Perjuangan sengit pun dijabaninya, hingga berhasil masuk ke bis terakhir yang sudah sesak itu dari pintu belakang. Vino mendapat jatah beberapa spasi untuk berdiri selama perjalanan. Tak sampai seratus meter berjalan, bis kembali berhenti memungut penumpang. Pak supir pasti kasihan melihat calon penumpang yang mulai dibasahi gerimis, pikirnya. Ternyata hanya satu orang, itu Dannies.

Entah kenapa, seketika Vino merasa udara disekitarnya semakin menekan. Dannies sedang mengeringkan butir-butir hujan dirambutnya dengan handuk kecil hingga kedua mata mereka bertemu. Tatapan canggung keduanya bertemu menembus sesak penumpang bis terakhir itu. Beberapa saat kemudian keduanya saling memalingkan pandangan sembari (pura-pura) sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Terlalu janggal rasanya kalau Vino memaksa menghampiri Dannies yang kebagian jatah berdiri di Pintu masuk depan, bahkan untuk sekedar menyapa dengan suara lantang didalam bis yang sudah cukup berisik dengan hujan deras senja itu.

Sejak memasuki Tol, Vino memalingkan pandangannya dari Dannies. Mungkin karena terlalu senang atau terlalu takut, perutnya mendadak mulas. Paling cepat butuh setengah jam hingga bis itu keluar dari Tol, ia berharap bisa menahan sakit perutnya dengan tidak memikirkan bahwa Dannies ada satu bis dengannya.  -____-

Hingga di perhentian terakhir, Vino baru memutuskan hendak menyapa Dannies, namun sayangnya, Dannies sudah lebih dulu turun di perhentian sebelumnya.

 

 

^_^

 

 

Hari kedua pun Vino terpaksa harus berburu Damri lagi, Loki itu memang mobil kodok, tapi paling susah diajak jalan-jalan kalo musim hujan begini. Semua orang selalu bilang, Loki itu kodok yang hibernasi dimusim hujan, jadi sebaiknya dibiarkan istirahat dirumah.

Pssst. Dannies, kamu apa kabar?

Vino muncul diantara mahasiswa baru yang berkumpul didepan kampus pagi itu. Karena ia harus berperan sebagai kakak kelas yang menyeramkan, Ia sengaja muncul dibalik Jacket Hoodie yang dulu dipinjamkannya pada Dannies.

“Eh, kak? Ba.. baik, Kak.” Jawab Dannies kaget.

Benar-benar bukan tanggapan yang diharapkannya.

“Ini aku, Vino. Kamu gak perlu panggil ‘Kak’ deh.”

“Vino?”

“Iya, yang nemenin kamu, badai dan angin waktu di Monumen Lokomotif uap dua tahun lalu, inget gak?”

(badai & angin): Nama dua anak kucing yang diselamatkan Dannies di Stasiun

“Monumen Lokomotif? ” Tanyanya bingung.

“Inget Hoodie ini ? Kita juga sempat nonton bola di Stadion waktu itu. Terus, Kamu… ”

Ucapannya terpotong ketika Dannies menyerahkan sebuah Handband putih yang diambil dari tas nya. Vino terperangah, ia bahkan hampir lupa pernah meminjamkan Handband itu di depan Monumen Lokomotif Uap.

“Jadi nama kamu Vino?”

“Woi Dannies! Ngumpul tuh!”  Teriak seseorang tidak begitu jauh dari mereka.

“Tuh Dan, dipanggilin. Yaudah, nanti sore habis acara ini, aku tunggu di Pondok gerbang lama yah”

“Siap bos!” kata Dannies lalu tersenyum.

 

Tiba lebih awal dari rekan-rekannya, Vino menyelinap ke Ruang medik untuk memeriksa catatan penyakit yang dimiliki Dannies.

“Als.. shemer. Alish.. meser.. “ eja-nya sambil mengusap-usap matanya.

Alzheimer!  Sela Imran, yang muncul tiba-tiba dibelakangnya.

“Vino.. Vino, IPK doang setinggi langit, baca istilah begitu sampe gagu, hahaha. Lagi nyari apa Vin?”

“Gak kok, gapapa. Haha, thanks ya” Katanya melengos pergi.

 

 

 

Hari terakhir Ospek mahasiswa baru ini harusnya bisa jadi awal dari hubungan baik mereka, andai saja Dannies datang sore itu, ditempat yang mereka sepakati sebelumnya. Kegigihan Vino, menahannya menunggu disana dari sore hingga pukul tujuh malam. Dari gerimis, lalu hujan hingga teduh kembali, Vino tidak berpindah dari tempatnya. Ia lalu teringat penyakit aneh yang diderita Dannies. Dannies pasti Collapse atau sangat sakit untuk datang kesini, pikirnya. Ia bergegas menghampiri Imran yang masih berada di Kampus malam itu juga.

“Ran, tadi lihat Dannies gak? Yang pita medisnya ganda itu.”

“Dannis Kara Kersley? Tadi sih udah pulang sama temen-temennya”

“Dia gak kenapa-napa kan?”

“Enggak. Hari ini dia normal kayak biasa. Emangnya ada apa? Naksir ya lo?”

“enggak kok, nggak kenapa-napa.” Sedikit kecewa menyelimuti hatinya, namun bahagia yang ia rasakan lebih besar karena Dannies tidak mengalami hal-hal buruk yang terpikirkan olehnya.

“Yakin?” dengan sorot mata tajamnya, Imran mengeluarkan secarik kertas.

“eh, eh? Itu apa?”

“Ambil nih. Bapak Introvert” sindirnya.

Ini alamat situs blog. Tapi kenapa? Tak habis ia bertanya.

Karena terlampau larut, Vino terpaksa menumpang bis antar kota untuk pulang kerumahnya. Lagi-lagi hujan, malam di sepanjang Nopember itu pasti akan selalu basah, pikirnya. Malam itu kantuknya belum terkumpul banyak, padahal tinggal hitungan detik menuju pergantian hari. Masih berbalut piyama, Vino memanaskan mesin Loki. Loki boleh saja VW tua bermesin butut, tapi Interiornya lebih nyaman dari sekedar mobil jadul manapun untuk diajak berjalan-jalan malam. Bisa ditebak kemana Loki mengarah, tidak berbeda dengan apa yang dipikirkan tuannya, Rumah Dannies. Sebagai panitia, cukup mudah baginya untuk sekedar mengumpulkan data Dannies.

Sama seperti pengecut-pengecut lainnya, ia memarkir ‘Limousin’ kodoknya diseberang jalan, dan memperhatikan rumahnya dari jauh, sambil menyeduh coklat panas. Selesai menafkahi hatinya, ia bergegas pulang untuk gantian menafkahi matanya, apalagi besok akan ada kuliah pagi menunggunya.

Kembali kekasurnya, matanya menangkap benda yang baru saja kembali padanya hari ini, Handband putih kesayangannya. Ia tidak percaya Handband yang ditinggalkan almarhum kakak perempuannya, begitu mudah ia pinjamkan ke orang yang sangat baru dikenalnya. Tak jauh dari Handband putih itu, terdapat kertas kecil bertuliskan alamat situs blog yang diberikan Imran. Penasaran hebat, ia memyalakan laptopnya, dan memasukkan alamat tersebut.

“A Tribute To Malaikat Hujan” nama blognya.

Matanya yang mulai sayu, kembali terbelalak. Blog itu, milik… Dannies. Vino memaksa matanya menelusuri tulisan-tulisan blog itu, semuanya berisi curhat Dannies kepada sosok yang disebut-sebutnya Malaikat Hujan. Hingga akhirnya ia sadar bahwa blog itu dibuat tepat pada hari pertama mereka bertemu. Lalu, muncul lah tulisan baru Dannies yang langsung menyita seluruh fokus dan kantuknya.

D.K Kersley

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s