Realisme Klasik (Classical Realism)

Thucydides

Tokoh-tokoh utamanya, Thucydides dengan The History of Pelopnnesian War (430-406 BC), Machiavelli dengan The Prince nya (1532), Hans J. Morgenthau dengan Politics Among Nation nya (1948). Menurut Realisme Klasik, hasrat untuk mendapatkan kekuasaan lebih besar berasal dari sifat manusia itu sendiri, negara secara berkesinambungan digunakan sebagai alat untuk memperjuangkan kapabilitasnya.[1] Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Ketika satu kebutuhan terpenuhi, ia masih ingin mendapatkan nya secara maksimal. Maka, sekalipun ia sukses akan target nya, sesungguhnya masih banyak terget-target yang lebih tinggi menanti.

Tuchydides dalam bukunya History Of Pelopnnesian War, adalah pencetus pertama Realisme klasik ini. Dia memilih perang di antara negara-kota (city-state) Atena dan Sparta sebagai analisis kasusnya. Ia menjelaskan penyebab mendasar terjadinya perang antara Sparta dan Atena dalam suatu istilah: Penyebab mengapa perang tersebut tidak dapat dihindari adalah perkembangan Power Atena dan ketakutan di Sparta. Lalu Sparta mulai memperkuat penempatan militernya dalam menanggapi kekuatan Athena.

Sementara Nicollo Machiavelli, ia dianggap sebagai Teoritikus Politik Moderen, dalam pola realisme tradisional. Dia yang menjelaskan bahwa politik adalah bagai mana yang sebenarnya, bukan bagaimana ia seharusnya (berbanding terbalik dengan Idealisme). Machiavelli menyumbangkan dua asumsi nya terhadap Realisme. Pertama, dalam pandangannya Manusia adalah ‘jahat’, yang menjadi salah satu  prinsip utama dari Realisme Klasik. Dalam The Prince, Machiavelli menulis bahwa “jurang antara bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup dan bagaimana sesungguhnya ia menjalaninya sangat lebar sehingga, seorang yang mengabaikan apa yang sudah dilakukan untuk apa yang seharusnya dillakukan mempelajari cara untuk menghancurkan dirinya sendiri daripada memperbaiki diri.

Yang Kedua, asumsi pesimistik akan sifat manusia ini membawa Machiavelli menegaskan pentingnya kekuatan militer dan keamanan nasional. Ketahanan dari suatu negara adalah tujuan paling penting dari politik. Morgenthau, seperti Machiavelli menghindari ketidakamanan(unsecurity), penyerangan, dan perang mengulangi motif-motif Politik Internasional dan motif-motif itu pada akhirnya berasal dari sifat manusia itu sendiri. Morgenthau seperti pendahulunya menyadari bahwa pada tingkat mendasar, pertikaian dikendalikan bukan oleh perbedaan-perbedaan politik dan ideologi, melainkan keinginan manusia itu untuk mengendalikan manusia lain.

Ungkapan “Realisme Klasik” berasal dari seniman Minneapolis, Richard Lack. Lack belajar dengan Sarjana Boston, R. H Ives Gammell (1893-1981) pada awal 1950-an. Pada tahun 1967, Lack mendirikan “Atelier Lack”,sebuah sekolah studio seni pola rupa. Pada tahun 1980 ia telah melatih kelompok pelukis muda dengan signifikan. Pada tahun 1982, mereka mengorganisir sebuah pameran keliling dari pekerjaan mereka dan seniman lain dalam tradisi artistik diwakili oleh Gammell, Lack dan siswa mereka. Lack diminta oleh Vern Swanson, direktur (tempat pameran berasal) Springville Museum, Springville, Utah, untuk menciptakan istilah yang akan membedakan realisme ahli waris tradisi Boston dari seniman representasional lainnya. Meskipun ia enggan untuk melabeli karya ini, Lack memilih istilah “Realisme Klasik.” Itu pertama kali digunakan dalam pameran yang berjudul: Realisme Klasik: The Other Twentieth Century.

“Dasar Normatif realisme adalah keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara: ini merupakan nilai-nilai yang menggerakkan doktrin kaum realis dan kebijakan luar negeri kaum realis. Negara dipandang esensial bagi kehidupan warganegaranya: tanpa negara yang menjamin alat-alat dan kondisi-kondisi keamanan dan yang memajukan kesejahteraan, kehidupan manusia dibatasi menjadi seperti, seperti yang tersurat dalam pernyataan Thomas Hobbes yang terkenal,‘ terpencil, miskin, dan sangat tidak menyenangkan, tidak berperikemanusiaan, dan singkat. Dengan demikian negara dipandang sebagai pelindung wilayahnya, penduduknya dan cara hidupnya yang khas dan berharga. Kepentingan nasional adalah wasit terakhir dalam menentukan kebijakan luar negeri. Masyarakat dan moralitas manusia dibatasi pada negara dan tidak meluas pada hubungan internasional, yang merupakan arena politik dari kekacauan besar, perselisihan, konflik antara negara-negara di mana negara-negara berkekuatan besar mendominasi pihak-pihak lain”.[2]

Perspektif Realisme berakar dari asumsi dasar tentang pesimisme dan skeptisisme terhadap sifat dasar manusia. Pesimisme dan skeptisisme tersebut terutama tentang peluang yang sangat kecil dalam kemajuan politik internasional dan politik domestik, yang kemudian dapat disebut sebagai asumsi kedua. Asumsi dasar ketiga adalah bahwa dunia ini sebenarnya terdiri atas negara-negara berdaulat yang saling terlibat konflik anarkis. Perang lah yang kemudian menjadi penyelesaian dari konflik tersebut. Asumsi keempat adalah menjunjung tinggi keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara (Jackson & Sorensen 1999:88).[3]

Sedangkan Gilpin (1986:305) mengemukakan bahwa terdapat dua penekanan utama pada perspektif Realis. Pertama, adanya pemaksaan politis yang didasari oleh egoisme manusia. Kedua, yaitu tidak adanya pemerintahan internasional yang menyebabkan anarki, sehingga kemudian membutuhkan keunggulan power dan keamanan. Dalam konteks ini, kaum realis menggunakan keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara sebagai dasar normatif penyebaran doktrin dan pengambilan kebijakan luar negerinya. Bagi kaum realis, negara (state) adalah aktor utama dalam hubungan internasional, sekaligus menekankan pada hubungan antarnegara (interstate relations). Negara dalam konteks ini diasumsikan sebagai entitas yang bersifat tunggal (unitary) dan rasional. Maksudnya adalah bahwa dalam tataran negara, perbedaan pandangan politis telah diselesaikan hingga menghasilkan satu suara, sedangkan negara dianggap rasional karena mampu mengkalkulasikan bagaimana cara mencapai kepentingan agar mendapat hasil yang maksimal ( Viotti & Kauppi 1998:55).[4]

 

 

 

[1]Dr. Arry Bainus, Dkk.2011. Introduction to International RelationI : Realism. Bandung

[2] Refrizon Simaboera. 2007.  Realisme Klasik Dan Neoklasik. Astarizon.Org

[3] Realisme dan Neorealisme: Perspektif Klasik Dalam HI. Diakses Dari. http://ranilukita.wordpress.com/2009/03/30/realisme-dan-neorealisme-perspektif-klasik-dalam-hi/. Pada tanggal 4 April 11, pukul 19:21 Wib

[4] Realisme dan Neorealisme: Perspektif Klasik Dalam HI. Diakses Dari. http://ranilukita.wordpress.com/2009/03/30/realisme-dan-neorealisme-perspektif-klasik-dalam-hi/. Pada tanggal 4 April 11, pukul 19:21 Wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s